Kamis, 09 Agustus 2018

EKONOMI

Penguatan Dolar AS Membebani Harga Emas

Janod Adhiwena.s
Jum'at, 10/08/2018



Ilustrasi Harga Emas (4)
Ilustrasi Harga Emas



London - Harga emas bergerak mendatar seiring penguatan Dolar yang membebani momentum kenaikan logam mulia ini. Meskipun demikian, harga emas sempat mengambil peluang dari kestabilan mata uang China, yuan.

Melansir laman Reuters, Jumat (10/8/2018), harga emas di pasar spot mendatar ke posisi USD 1.213,05 per ounce. Adapun emas berjangka AS untuk pengiriman bulan Desember turun USD 1,10, atau 0,1 persen menjadi USD 1.219,90 per ounce.

 "Kami masih berpikir (emas) akan bergerak lebih tinggi di babak kedua karena dolar yang sedikit melemah. Pemerintah China mencoba untuk menghentikan yuan (dari) pelemahannya, dan kita akan memiliki lebih banyak kekhawatiran atas perdagangan," kata analis Bank of America-Merrill LynchMichael Widmer.   



Emas sangat berkorelasi dengan yuan dalam beberapa tahun terakhir. Selama berminggu-minggu, mata uang Cina ini bertindak sebagai proxy di tengah kekhawatiran tentang ketegangan perdagangan AS-Cina.   

Kini Dolar tercatat menguat terhadap sekeranjang mata uang utama dipicu memudarnya ketegangan geopolitik.

Dolar yang kuat membuat harga emas lebih mahal untuk investor non-AS. "Saat ini, emas dalam pola bertahan sampai Anda mendapatkan lebih banyak data," kata Josh Graves, Ahli Komoditas Senior RJO Futures.    

Saat ini, emas gagal mengambil manfaat dari meningkatnya ketegangan geopolitik di tahun ini. Investor lebih memilih pengamanan investasi seperti keamanan dolar ketimbang emas.

Ketegangan yang dimaksud terkait rencana China akan mengenakan tarif impor balasan sebesar 25 persen atas impor senilai USD 16 miliar terhadap AS.

Di sisi lain, Washington mengatakan akan memberlakukan sanksi baru terhadap Rusia terkait masalah agen.

Apalagi, Federal Reserve juga telah menaikkan suku bunga AS dua kali pada tahun ini dan menargetkan dua kenaikan lagi. Tingkat suku bunga yang lebih tinggi cenderung meningkatkan dolar dan imbal hasil treasury, yang menambah tekanan pada emas.

Adapun harga perak naik 0,4 persen menjadi USD 15,45 per ounce, sementara platinum tidak berubah dari posisi USD 826,50.  Harga Palladium meningkat 0,7 persen menjadi USD 906 per ounce.




Harga Minyak Tertekan Penurunan Permintaan

Janod Adhiwena.s
Jumat, 10/08/2018



Harga Minyak Tertekan Penurunan Permintaan
Ilustrasi. (REUTERS/Stringer)




Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia tergelincir pada perdagangan Kamis (9/8), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan masih dipicu oleh sentimen pasar terhadap eskalasi perang dagang AS - China yang berisiko menyeret permintaan minyak dunia.

Dilansir dari Reuters, Jumat (10/8), harga minyak mentah berjangka Brent turun US$0,21 menjadi US$72,07 per barel. 

Penurunan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,13 menjadi US$66,81 per barel.


Kedua harga acuan merosot lebih dari tiga persen pada perdagangan Rabu (8/8) usai dirilisnya data stok minyak mentah AS yang turun lebih rendah dibandingkan perkiraan.

Selain itu, harga minyak juga terbebani oleh kenaikan jumlah pasokan bensin sebesar 2,9 juta barel yang mengejutkan karena hasil jajak pendapat analis Reuters memprediksi bahwa stok bensin bakal merosot sebesar 1,7 juta barel.

"Kemampuan bensin untuk bertahan di tengah kuatnya permintaan membebani pasar," ujar Partner Again Capital Managemen John Kilduff di New York.

Sebelumnya, lanjut Kildulff, harga minyak telah mendapat dorongan harga ke atas akibat kekhawatiran bakal terjadi kelangkaan. Namun, kekhawatiran akan hal tersebut telah mereda.

"Pasokan sepertinya mencukupi untuk memenuhi kondisi permintaan yang cukup kuat," ujarnya.

Pasar minyak juga terbebani oleh kekhawatiran terhadap sengketa dagang yang akan menekan permintaan minyak. 

Sebagai upaya retaliasi melawan AS, China mengenakan tarif sebesar 25 persen pada impor AS senilai US$16 miliar mulai dari bahan bakar minyak, produk baja, otomotif hingga peralatan kesehatan. Minyak mentah akan dikecualikan.

Perang dagang membuat pasar global gelisah. Investor takut perlambatan di dua perekonomian terbesar di dunia akan menyeret permintaan terhadap komoditas.
Trader minyak juga mengkhawatirkan permintaan China. Impor minyak mentah China meningkat pada Juli lalu setelah turun selama dua bulan berturut-turun.

Namun, capaian tersebut masih tergolong rendah untuk tahun ini akibat penurunan permintaan dari kilang independen berskala kecil.

Irak telah memangkas harga jual resmi minyak mentah Basra Light pengiriman September untuk konsumen Asia pada Kamis kemarin.

Selasa lalu, pemerintah AS secara resmi telah memberlakukan sanksi terhadap Iran, produsen minyak terbesar ketiga di Organisasi Negara Pengekspor Minyak.

Sanksi tersebut tidak akan secara langsung membidik ekspor minyak Iran hingga November meski Presiden AS Donald Trump telah mengatakan bahwa ia ingin sebanyak mungkin negara yang memangkas impor minyak dari Iran hingga ke level nol.

"Jika hal terburuk yang terjadi dan 1,5 juta hingga dua juta bph minyak dari Iran menghilang dari pasar, perhitungan akan menjadi sia-sia dan harga minyak harus siap mengalami masa-masa sulit," ujar Analis PVM Oil Associates Tamas Varga.





Daya Beli Lesu, Penjualan Rumah Kuartal II Melempem

Janod Adhiwena.s
Jumat, 10/08/2018





Daya Beli Lesu, Penjualan Rumah Kuartal II Melempem
Ilustrasi penjualan rumah. (ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho)



Jakarta, CNN Indonesia -- Hasil Survei Harga Properti Residensial Pasar Primer Bank Indonesia (BI) mencatat penjualan properti residensial merosot hingga turun 0,08 persen pada kuartal II 2018 dari sebelumnya tumbuh di kisaran 10,55 persen pada kuartal I 2018. 

Direktur Departemen Statistik BI Gantiah Wuryandani mengatakan penjualan rumah turun karena melemahnya daya beli masyarakat. Penurunan penjualan terutama terjadi pada rumah kelas menengah dari 33,71 persen pada kuartal I 2018 menjadi minus 17,29 persen pada kuartal II 2018. 

Begitu pula dengan penjualan rumah kelas atas yang turun dari 28,63 persen menjadi minus 4 persen pada periode yang sama. Sementara itu, penjualan rumah kelas bawah justru meningkat signifikan dari minus 1,97 persen menjadi 11 persen. 


Ia menilai peningkatan daya beli masyarakat kelas bawah terjadi karena derasnya bantuan subsidi di sektor perumahan dari pemerintah, yaitu dengan diberikannya Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).


"Ini karena alokasi FLPP meningkat, sehingga daya beli masyarakat kecil itu ikut meningkat dan mendorong penjualan. Meski tidak berlaku di kalangan menengah dan atas," katanya di Kompleks BI, Kamis (9/8). 

Data BI mencatat pembiayaan FLPP mencapai Rp958 miliar. Jumlah ini meningkat 102,11 persen dari kuartal sebelumnya di minus 38,81 persen pada kuartal snebelumnaya, 

Selain itu, indikasi minimnya daya beli kalangan menengah dan atas tercermin dari peningkatan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan masih adanya batasan rasio uang muka (Down Payment/DP) dari bank. Maklum saja, bunga KPR dan DP yang tinggi akan membuat masyarakat pikir-pikir lagi untuk membeli rumah. 

Berdasarkan data BI, rata-rata suku bunga KPR bank asing dan campuran naik dari 10,07 persen pada Maret 2018 menjadi 10,19 persen pada Juni 2018. Sedangkan rata-rata bunga KPR Badan Pembangunan Daerah (BPD) naik dari 11,95 persen menjadi 12,25 persen pada periode yang sama. 


Meski, rata-rata bunga KPR bank swasta nasional justru menurun dari 11,83 persen menjadi 10,93 persen. Lalu, bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) turun 0,03 persen dari 9,33 persen menjadi 9,3 persen. 

"Mungkin bank swasta nasional ini lebih efisien, misalnya beban operasionalnya lebih rendah sehingga bisa turunkan margin, jadi bisa bertahan bahkan turun," katanya. 

Tak ketinggalan, penjualan rumah juga menurun karena ada peningkatan harga properti sekitar 0,76 persen pada kuartal II 2018 dari 1,42 persen pada kuartal sebelumnya. "Kenaikan harga disebabkan oleh kenaikan harga bahan bangunan dan kenaikan upah pekerja bangunan," jelasnya. 

Kenaikan harga tertinggi terjadi di Medan mencapai 2,94 persen secara kuartalan dan Batam sebesar 1,53 persen. Sedangkan harga rumah turun cukup dalam di Balikpapan. (agi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar